Jumat, 04 Januari 2013
STASE PARU,stase pertama q
Stase paru,stase pertama ku awal masuk coass di RS. Awal_awal nya memamng membingungkan , karena ini untuk yg pertama kali nya berhadapan langsung dg pasien.
Macam-macam tingkah dan sifat pasien. Ada yg ramah dg kami para dokter muda , ada yg suka bikin sebell..hahaha... ya,cuma bisa sabar dan dimaklumkan.
Aku,menganggap pasien itu keluarga,jadi sebisa mungkin aku bantu mereka. Melihat mereka bisa pulang,aku senang. Tidak terpikirkan untuk mendapat ucapan "terima kasih" dari mereka , yg penting aku bisa menolong mereka.
Ada salah satu pasien ku , dimana setiap hari,setiap pagi,sore selalu aku periksa fisiknya dan menanyakan keluhannya saat itu. Sampai dia dinyatakan boleh pulang oleh dokter spesialis. Senangnya mendengar pasien ku boleh pulang. Surat pulang pasien tersebut sudah selesai aku urus dan sudah ditanda tangani dokter spesialisnya. Sampai disana tugas sudah cukup. Siang itu seperti biasa , aku dan teman-teman yg lain berkumpul diteras bangsal sekedar berbagi cerita. Tiba-tiba aku dipanggil salah satu teman ku , dia mengatakan bahwa pasien ku mencari ku. Lalu aku menghampiri pasien itu dan bertanya ada apa. Dia mencari ku hanya untuk mengucapkan terima kasih. Hampir saja air mata ku keluar , terharu. Dia dan keluarga nya masih ingat dengan ku. Aku temani mereka sampai pintu gerbang bangsal dan mengingatkan agar teratur minum obat.
Satu cerita lagi , pasien ku yg satu ini penyakitnya sudah terlalu kompleks. Kata dokter spesialis alias guru ku di RS , penyakit nya ini keroyokan , banyak. Semua prosedur persiapan pemeriksaan aku yg urus,semuanya. Pasien ku termasuk gawat. Jadi,aku tidak bisa berleha-leha mengurus semua pemeriksaan. Berlari dan berlari biar pemeriksaan cepat dilakukan. Konsul kesana kemari. Sampai saat itu aku mulai sakit,tapi tidak aku pedulikan kesehatan ku,aku tidak mau terjadi apa-apa dg pasien ini. Pagi itu,pasien ku dan istri nya duduk dekat bed. Selesai aku periksa,istri nya mengeluh pada ku "sampai aku mikir gini dok,kalau mau diambil,ambillaahh..ikhlas saya dok,ikhlas.."...aku terdiam , dan ibu itu meneteskan air mata,aku tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun dan hampir menangis. Yang bisa aku lakukan waktu itu hanya mengelus pundak ibu itu seolah memberi kekuatan.Hari kehari penyakit pasien tersebut semakin memburuk. Aku tidak tega melihatnya menahan rasa sakit. Berselang beberapa hari,waktu itu hari minggu , aku tidak ada jadwal jaga di bangsal lagi dan pasien tersebut sudah aku serahkan dg dokter muda yg lain karena tugas dibangsal sudah selesai. Tiba-tiba aku mendapat sms dari teman , yg isinya tentang wafatnya pasien ku itu. Aku sangat-sangat merasa bersalah. Walaupun tugas ku hanya memeriksa nya dan memberikan obat yg disuruh dokter spesialis , tetap saja merasa bersalah.
Ya Allah,bantu aku untuk membantu pasien-pasien ku
Langganan:
Postingan (Atom)